Wednesday, August 20, 2014

Menguak Kenikmatan Kopi Bumi Andalas

Pengantar

          Keindahan alam serta hasil bumi Indonesia memang tiada habis-habisnya di eksplorasi.Dalam rangka menguak kekayaan alam Indonesia terutama sentra penghasil kopi berkualitas di Bumi Andalas, PT.Astra Daihatsu Motor mengadakan ekspedisi dengan tema Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise. Pulau Sumatera yang menjadi target ekspedisi ini selain terkenal akan keindahan alamnya juga terkenal sebagai penghasil kopi berkualitas.Sebagaimana kita ketahui kopi di Indonesia sekarang sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang sangat menarik. Dan di Indonesia sangat terkenal dengan kopi luwaknya. Perjalanan ini merupakan sebuah penggambaran brand Terios sebagai “Sahabat Petualang” sejati serta mengajak masyarakat Indonesia untuk bertualang mencari kopi luwak yang terenak di Sumatera. Mulai dari kopi luwak di Liwa,Lampung sampai kopi luwak di Gayo,Nanggroe Aceh Darussalam.

Persiapan Team Sahabat Petualang
  
         Dalam event ekspedisi Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini,Daihatsu menyiapkan 3 unit kendaraan Terios Hi-Grade terdiri 2 TX bertransmisi matik dan TX manual.Bertenagakan mesin 3SZ-VE DOHC VVT-i berkapasitas 1495 cc, Terios akan diuji ketangguhannya di medan perjalanan yang bervariasi kontur jalannya. Perjalanan panjang lebih kurang 3600 km selama 15 hari bakal dilakoni tim Sahabat Petualang. Persiapan matang pun dilakukan,3 unit kendaraan “dipulihkan” performanya di bengkel resmi Daihatsu.Berbagai fitur keselamatan dan kenyamanan yang disematkan di Terios dilakukan pengecekan ulang.Untuk menjamin kenyamanan para peserta Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini. Persiapan selanjutnya mengakomodasi barang bawaan team Sahabat Petualang,perlengkapan dan peralatan selama perjalanan menjadi prioritas.Saking banyaknya barang bawaan,2 unit mobil Terios harus dipasangi roof box dan roof bag.Maklum saja karena peserta Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini meliputi media cetak,elektronik hingga media online.
  
           Misi utama dari petualangan ini adalah membuka mata dunia akan kekayaan alam Indonesia terutama pulau Sumatera. Singkatnya, 10 Oktober 2012 tepatnya pada pukul 10 pagi di Vehicle Logistic Center Daihatsu, Jakarta, tim Sahabat Petualang resmi dilepas oleh manajemen PT Astra Daihatsu Motor.

 
         Kini saatnya kita ceritakan ekspedisi menjelajahi keindahan alam dan petualangan sentra-sentra penghasil kopi di Bumi Andalas hingga titik nol kilometer di Sabang, dalam rangkaian cerita yang akan menggambarkan keseruan dan menguras tenaga dan stamina selama perjalanan.

1. Aroma Kopi Luwak Liwa begitu menggoda 
          Tujuan pertama team Sahabat Petualang setelah mendarat di Bakauheni adalah Liwa,Lampung. Tujuan awal menuju sentra pengolahan kopi KUD Karya Utama di Sipatuhu. Hari Jumat 12 oktober 2012, team Sahabat Petualang memasuki kota Liwa setelah sebelumnya berjibaku di jalanan menghindari iring iringan truk dan bus rute lintas Sumatera.Aura kopi mulai terasa,atribut serta warung kopi bertebaran di berbagai sudut kota.Perkebunan kopi rakyat mulai tampak di jalur Liwa – Danau Ranau. Infrastruktur jalan yang mulus di rute Liwa – Danau Ranau yang di samping kanan kirinya perbukitan hijau yang merupakan perkebunan rakyat, Terios seolah tidak mengeluh kelelahan.Performa mesin Terios tetap mantap walaupun jalanan banyak tikungan dan berkelok kelok.

 
         Tiba di lokasi,di KUD Karya Utama,team Sahabat Petualang langsung diajak menuju ke pabrik pengolahan kopi Liwa.Proses pengolahan biji kopi di KUD Karya Utama ini masih bersifat manual.Dari proses pemilahan biji,proses sangrai hingga proses penggilingan masih mengandalkan tenaga manusia.Untuk peng-ovenannya membutuhkan suhu 190 derajat Celsius untuk mencapai kualitas dan warna yang diinginkan. Istimewanya, kelompok petani kopi di KUD Karya Utama ini berani berinovasi dengan menambahkan aroma gingseng serta aroma pinang. Ya memang harus ada pengembangan produk untuk memenangkan persaingan pasar.



Puas melihat proses pengolahan biji kopi didalam pabrik,team Sahabat Petualang pun diajak ke kebun kopi untuk melihat secara langsung bagaimana memetik buah kopi yang sudah matang. Kini saatnya kopi Luwak menjadi menu selanjutnya. Istimewanya,masih disekitar sentra kopi Danau Ranau ini mengkhususkan luwak. Beruntungnya, kami menyaksikan langsung beberapa luwak atau musang liar yang diberdayakan oleh petani. Tidak semua biji kopi dimakan oleh luwak. Hanya biji kopi pilihan dan punya kualitas terbaiklah yang dimakan. Cara mudah menentukan biji kopi terbaik bisa tampak dari warnanya yang merah dan tenggelam saat hendak direndam air.

Bila sang musang sudah memakan biji kopi terbaik, setidaknya minimal 6 jam kemudian, setelah mengalami fermentasi di dalam pencernaannya,dikeluarkan kembali via feses dalam bentuk sekumpulan biji.Inilah kotoran hewan termahal di dunia. Pembersihan dan pengeringan kembali menjadi langkah selanjutnya sebelum dikirim ke pengolah kopi dan siap dipasarkan.Selain melayani pasar lokal,KUD Karya Utama juga kerap memasok berbagai hotel di Jakarta. Dengan harga satu kilogramnya mencapai 1.9 juta rupiah,jelasnya harga sebanding dengan produksi yang dihasilkan.Setelah puas mengamati proses produksi dan menikmati kopi luwak Ranau,team Sahabat Petualang pun beranjak meninggalkan Liwa dan menuju ke Lahat.

2. Keramahan Kopi Lahat 



        Team Sahabat Petualang tiba di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan menjelang pukul 20.00 WIB setelah sebelummnya mengunjungi dan menikmati aroma kopi Liwa di Lampung. Citra Lahat yang sebelumnya kurang bersahabat,saat ini mulai berubah. Pemerintah daerah sudah membenahi infrastruktur jalan serta penerangan jalan raya,sehingga kondisi Lahat di malam hari terlihat terang. Team Sahabat Petualang mendapatkan kehormatan karena langsung disambut oleh Bupati Lahat,Bpk Haji Saifudin Aswari Riva’i dan staf-nya.
       Dari penjelasan Pak Bupati Lahat,memang masyarakat Lahat sejak jaman dulu sudah menjadi petani kopi sehingga budaya minum kopi di masyarakat Lahat sudah tidak asing. Kebun kopi banyak bertebaran di Lahat,sayangnya pemasarannya banyak dikuasai oleh tengkulak sehingga harga kopi di tingkat petani kerap dipermainkan. Bapak Bupati pun memberikan apresiasi kepada team 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise yang programnya sejalan dengan program Pemerintah Daerah Lahat untuk mengangkat kembali kopi Lahat yang sempat populer. Sehingga bisa menggairahkan kembali para petani di Lahat untuk mengolahkembali kebun kopi yang telah lama ditinggalkannya. Esok harinya Team Sahabat Petualang mengunjungi home industry pengolahan kopi tradisional milik privatir, Bpk Zahari Cikman yang sejak tahun 1980 sudah memulai produksinya.


          Masuk ke dalam lingkungan pabriknya,proses pengolahannya begitu sederhana,Mulai dari bahan baku pembakaran batok kelapa, proses berendang (sangrai) hingga penggilingan sampai 2 kali untuk mendapatkan kopi yang siap saji. Tabung oven untuk proses sangrai biji kopi pun masih diputar manual oleh tenaga manusia.Hanya proses penggilingan saja yang dilakukan oleh mesin bertenaga disel.
Walaupun proses pengolahan biji kopi di Lahat ini masih mengandalkan teknologi yang sederhana,namun tidak mengurangi kualitas dan aroma khas kopi Lahat.



         Dari pemilik usaha Bpk Zahari Cikman,Tema Sahabat Petualang mendapatkan penjelasan tentang penentuan kualitas kopi melalui kadar kering bijinya. Umumnya dari petani kopi kadar airnya mulai dari 15% hingga 17% sehingga dibutuhkan proses pengeringan lagi selama 4 hingga 6 hari.Untuk kapasitas produksinya,usaha pengolahan kopi milik Bpk Zahari Cikman ini mampu mengolah kopi hingga 100 kg/hari.Semua karyawannya berasal dari lingkungan sekitar pabrik.Selama ini tidak ada kendala di pemasarannya,semua produk kopi dapat terserap pasar. Tidak hanya dipasarkan di Lahat saja tapi juga sampai ke Rajabasa,Palembang dan sekitarnya.
      Upaya pak Bupati dan Cikman mengembalikan kejayaan kopi Lahat memang membutuhkan dukungan semua pihak. Setidaknya, langkah mereka memberikan kebanggaan serta mengangkat peri kehidupan masyarakat, terutama petani kopi menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Ekspedisi Team Sahabat Petualang selanjutnya menuju ke sentra kopi yang memiliki panorama alam serta hamparan perkebunan kopi yang elok dan nan indah, Pagar Alam.

3. Pesona Kopi Pagar Alam 

        Lokasi Pagar Alam ini hanya berjarak 48 km dari Lahat. 11 tahun yang lalu, Pagar Alam memang masih menjadi satu wilayah dengan Lahat sebelum akhirnya memekarkan diri. Jalanan menuju ke Pagar Alam terlihat mulus walaupun di banyak lokasi jalanan berkelok kelok serta di kanan kirinya bukit bebatuan. Dengan 2 unit Terios varian matic dan 1 unit terios manual memang menuntut kewaspadaan di jalan.Apalagi memasuki perbatasan kota Pagar Alam,kondisi jalanan disertai dengan tanjakan terjal.Walaupun akhirnya 3 unit Terios tersebut sukses mengatasi tantangan jalanan ini. Udara sejuk serta pemandangan alam yang menghijau mendomisi Pagar Alam. Hamparan kebun kopi membentang di lereng Gunung Dempo dan kopi menjadi komoditi andalan Pagar Alam. Team Sahabat Petualang pun penasaran dan segera menuju ke salah satu perkebunan kopi khas ini.

        Memang saat itu bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Pagar Alam.
Maklum bukan momen panen. Namun demikian bukan berarti para petani penggarap kopi melakukan aktivitas di luar momen itu. Walaupun tidak setiap hari,petani penggarap kopi tetap menjaga kondisi pohon kopi seperti mengontrol daun bila ada yang tidak sehat segera dibuang. Tidak jarang pula memetik buah kopi yang sudah ranum.
Kalau pas musim panen kopi,dalam sekali petik para petani mendapatkan sekitar 5 keranjang/orang.
Setelah “blusukan” ke kebun kopi,team Sahabat Petualang diajak untuk melihat proses pengolahan kopi Pagar Alam disalah satu pabrik yang berada tidak jauh dari kebun kopi tersebut.
        Kopi hasil dari memetik di kebun kopi tersebut segera dipisahkan biji dan cangkangnya. Beruntung, team Sahabat petualang dapat melihat langsung proses pemisahan biji dan cangkangnya.Prosesnya dimulai dari biji kopi disangrai didalam oven yang berbentuk silinder yang dipanaskan dengan kayu bakar dan diputar dengan mesin.Setelah itu biji kopi yang sudah dalam keadaan kering,dimasukkan kedalam mesin pemisah biji dan cangkangnya.Setelah terpisah biji kopi dimasukkan lagi kedalam oven silinder lagi.

       Proses pengolahan kopi di Pagar Alam dengan di Liwa ternyata hampir sama pemrosesannya. Perbedaannya hanya cara me-roaster biji kopinya.Wadah untuk mer-oaster di Liwa dan di Pagar Alam pun hampir sama.Perbedaannya hanya pada penggerak drum roaster-nya saja.Kalau di Lahat masih diputar manul dengan tenaga manusia,di Empat Lawang sudah menggunakan tenaga mesin.Sementara untuk proses penggilingannya pun sama, yaitu menggunakan 2 mesin.Mesin pertama biji kopi dihaluskan menjadi butiran kasar selanjutnya dipindah ke mesin satunya untuk dibuat butiran-butiran kopi yang lembut.


        Dalam sehari pabrik ini bisa memproses sekitar 100 kg kopi dengan cangkangnya dan hanya 60 kg kopi bubuk yang dihasilkan. Sementara sisanya,jadikan pupuk untuk dikembalikan ke kebun kopi agar kesuburan tanahnya terjaga. Puas menyaksikan proses pemisahan biji dan cangkangnya, Team Sahabat Petualang langsung diundang untuk makan siang oleh tuan rumah di tepi sungai. Bukan perkara mudah menuju lokasi tempat makan siang tersebut. Ketiga Terios mesti melintas genangan air sungai dan jalan tidak rata.


        Keunggulan kopi Pagar Alam asli ini adalah aromanya khas dan lebih lembut saat diminum. Bagi penggemar kopi, kenikmatan dan rasanya tidak bisa dilupakan. Potensi ekonomi Pagar Alam dari produksi kopi bubuk ini yang seharusnya didukung semua pihak agar kesejahteraan petani kopi pun akan terangkat ke taraf ekonomi yang lebih baik.

Tujuan ekspedisi penjelajahan kopi Sumatera Sahabat Petualang selanjutnya adalah menuju ke kabupaten Empat Lawang.


4. Empat Lawang, Kota Kopi Andalas

       Perjalanan team Sahabat Petualang dari kota Pagar Alam menuju ke kota Empat Lawang (Tebing Tinggi) harus dilalui melalui jalan yang berkelok kelok,menyusuri pinggiran sungai serta kondisi jalan yang dibeberapa bagian menyempit.Untungnya pemandangan kiri kanan jalan di sepanjang perjalanan sangat indah.Diselingi bukit bukit yang menghijau panorama khas pulau Sumatera menjadi menu yang harus dilalui.Butuh kehati-hatian agar tidak terjadi kecelakaan.Karena kecepatan yang bisa diraih Terios tak bisa terlalu kencang,akibatnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelsaikan jarak tempuh sepanjang 122 km membutuhkan waktu selama 3 jam.
       Kopi dalam “bahasa gaul” kota Empat Lawang dikenal dengan nama Kawo,menjadi komoditi andalan masyarakat Empat Lawang. Tidak mengherankan, kalau biji kopi menjadi lambang kabupaten yang baru berusia 5 tahun ini. Pemerintah daerah Empat Lawang cukup getol mendorong dalam mengembangkan industri kopi. Lebih jauh lagi, pemda Empat Lawang membuat motif kain batik berlatar kopi menjadi keunikan tersendiri. Kota yang memiliki slogan Kawo Emass (Ekonomi Maju, Aman, Sehat dan Sejahtera) ini berharap banyak pada komoditi kopi sebagai komoditi unggulannya.


        Kopi Empat Lawang ini berbeda dengan kopi-kopi dari daerah Sumatera lainnya. Kopi disini merupakan persilangan kopi jenis Arabika dan Robusta,sehingga menghasilkan aroma dan rasanya khas Empat Lawang.
      
       Wujud aslinya kopi Robusta tapi aroma kopinya Arabica. Sementara sentra perkebunan kopi di Empat Lawang tersebar di sejumlah lokasi. Salah satunya di Desa Linggis Talang Kupang yang tetap setia dengan kopi. Dari generasi ke generasi, masyarakatnya merupakan petani kopi. Team Sahabat Petualang pun menyempatkan berhenti di sentra perkebunan tersebut melihat secara langsung kebun kopi khas Empat Lawang tersebut. Buah kopinya masih berwarna hijau yang menandakan buah kopi masih belum layak untuk di petik. Setelah cukup mendapatkan informasi tentang tanaman kopi khas Empat Lawang,team Sahabat Petualang bergegas menuju ke pabrik pengolahan kopi yang terletak tidak jauh dari kebun kopi tersebut. Proses pengolahan biji kopi di Empat Lawang ini sudah lebih maju dari pengolahan kopi di Liwa,Lahat maupun di Pagar Alam.Biji kopi Empat Lawang sudah diproses menggunakan mesin bertenaga diesel untuk pengerak oven sangrainya maupun mesin penggilingnya. Bahkan untuk pengeleman kemasannya pun sudah memakai mesin. Jadi proses produksi kopi Empat Lawang ini sudah menerapkan manajemen produksi yang baik


       Perhatian Pemerintah Daerah Empat Lawang terhadap produk kopi andalannya patut diapresiasi.Investor yang akan membuka pabrik pengolahan kopi diberikan lahan industri. Bahkan Pemda Empat Lawang membangun gedung khusus untuk kopi dari berbagai wilayah yang ada di Empat Lawang.
Agar tanaman kopi selalu memberikan nilai tambah bagi komunitas di sekitarnya, Pemda Empat Lawang mempelopori para perajin mebel untuk menggunakan bahan baku kayu dari pohon kopi yang sudah tidak produktif lagi. Agar produk mebel dari pohon kopi dikenal masyarakat luas, Pemda pun berusaha mengajak para perajin mebel untuk ikut dalam pameran mebel yang diadakan oleh berbagai pihak.

       Selama ini kota Empat Lawang sukses memajukan industri kopi,sangat pantas dijuluki kota kopinya Andalas. Produk kopi emas Empat Lawang yang menjadi ikon kota Empat Lawang seyogyanya harus tetap dipertahankan keberlangsungannya.Inilah menjadi pekerjaan rumah masyarakat dan pemerintah daerah setempat agar perekonomian warga semakin baik kedepannya.



      Perjalanan Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise sudah memasuki hari ke 4 (14 Oktober 2012) sejak tiba dari Liwa,Lampung. Performa tunggangan Daihatsu Terios pun masih mantap,masih mampu diajak menjalani trek-trek yang lebih menantang lagi setelah meninggalkan kota Empat Lawang. Ekspedisi Terios ini memang hanya mendatangi sentra-sentra kopi yang merupakan penghasil kopi yang beredar di pasaran. Mulai dari Liwa,Lahat,Pagar Alam dan Empat Lawang. 
 
Untuk mengetahui serunya petualangan mencari sentra-sentra produksi kopi yang populer di pulau Sumatera,tonton video rangkuman perjalanan Terios 7 wonder Sumatera Coffee Paradise dibawah ini.




Ekpedisi selanjutnya adalah menuju ke kota Curup. Kota yang juga memiliki sentra kopi yang khas karena berada di daerah yang dingin. Dilanjutkan ke Madailing Natal,hingga ke sentra kopi di Takengon, NAD. Dan akhirnya finish di titik nol kilometer di pulau Weh,Sabang NAD. Nantikan kisah perjananan Terios 7 Wonder Sumatera Coffee selanjutnya yang lebih seru,menguji nyali dan tentunya menantang dalam kisah






 
 




Read More »

Sunday, August 17, 2014

Petualangan bersama Daihatsu “Terios 7 Wonders Hidden Paradise “

(Edisi Kepulauan Sunda Kecil)

         Setelah puas selama 6 hari mengeksplorasi keindahan alam dari pesisir pantai Sarwana hingga berpetualangan ala Afrika di alam bebas Baluran,team SahabatPetualang bersiap menuju ke destinasi selanjutnya,Pulau Lombok.Setelah menyeberangi selat Bali melalui pelabuhan Ketapang-Gilimanuk team SahabatPetualang memutuskan untuk bermalam di Bali sambil mempersiapkan segala perlengkapan menuju ke Pulau Lombok,mengingat jara tempuh yang lumayan jauh158 km dengan trek beragam dan tidak hanya didominasi perjalanan darat. Melalui pelabuhan Padang Bai,team SahabatPetualang menyeberangi Selat Lombok,5 jam team mengarungi selat Lombok dan akhirnya tiba dengan selamat di pelabuhan Lembar,Pulau Lombok.Saatnya memulai petualang baru di desa Sade Rembitan,desa yang masih memegang teguh tradisi ditengah gempuran budaya modern.

1. Kearifan Lokal Suku Sasak di Sade Rembitan

 
           Desa Sade Rembitan terletak di daerah Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah ini hanya berjarak 30 km dari Mataram, Lombok.Terletak persis di samping jalan raya Praya-Kuta. Dari Bandara Internasional Lombok, desa ini bisa ditempuh cukup dalam 20 menit dengan kendaraan bermotor.Desa ini merupakan desa perkampungan suku Sasak yang merupakan suku asli masyarakat Lombok.
Begitu team Sahabat Petualang tiba di Sade Rembitan disambut sejumlah tarian khas Sasak.Duo penabuh gendang dan iringan musik tradisional bersamaan seolah memberi salam, selamat datang. Tari Gendang Gelik ini mencairkan suasana tim Sahabat Petualang sesaat memasuki gerbang desa.Tabuhan gendang yang bertalu-talu ikut menyemarakkan suasana waktu itu.


          Kemudian, tarian Paresean merupakan ketangkasan petarung suku Sasak sekaligus ajang seleksi menuju medan perang masa silam. Acara penyambutan kedatangan team Sahabat Petualang ditutup dengan tari Amak Temengus.Tarian ini juga hanya dibawakan oleh satu orang dewasa. Yang lucu adalah dia bisa memonyongkan bibir sehingga mirip mulut tapir. Apalagi wajahnya dibalur cat warna-warni sehingga kesan monyong semakin kuat. Setelah puas menyaksikan tari tradisional sebagai tari penyambutan tem Sahabat Petualang,barulah team Sahabat Petualang berkesempatan mengelilingi Desa Sade Rembitan.Desa seluas 5500 m2 ini terdiri dari 150 rumah yang menampung sekitar 700 orang. Karena lokasi yang sangat terbatas,bila ada keluarga baru maka dia harus keluar dari desa Sade Rembitan sehingga jumlah rumah di desa ini selalu tetap.
          Banyak budaya unik di desa ini, salah satunya masalah pernikahan. Pada umumnya, calon mempelai pria dan wanita masih bersaudara dan berasal dari desa ini juga alias satu suku. Sebenarnya tidak dilarang jika menikah dengan orang dari luar desa, namun maharnya lebih mahal, bisa sampai 2-3 ekor kerbau. Oya, tradisi paling unik adalah sang pria bisa menculik sang wanita untuk dinikahi alias kawin lari. Kalau sang pria sudah berhasil menculik sang wanita, pihak orang tua wanita harus mau menikahkan anak gadisnya dengan lelaki penculik.

          Rumah adat suku Sasak ini berdinding dari anyaman bambu dengan disangga beberapa pilar yang terbuat dari bambu juga. Untuk menjaga agar lantai rumahnya tetap kuat dan tahan lama serta tidak lembab,masyarakat suku Sasak sering mengolesi lantai rumah mereka dengan kotoran sapi/kerbau. Tentu saja, ada prosedur yang memang harus dilakukan sebelum “perawatan” lantai rumah tinggal suku Sasak ini.Selain melihat rumah adat suku Sasak,team Sahabat Petualang melihat langsung proses pembuatan kain tenun Sasak. Mulai dari pemintalan benang hingga pewarnaannya semua bisa dilihat disini.
       Selama berkeliling di Desa Sade Rembitan ini,sangat terasa kenyamanan dan kedamaian lingkungannya. Keguyuban warga begitu mudah ditemui di setiap sudut desa.Suasana yang sangat sulit didapat di kota besar,walaupun desa Sade berada di tempat keramaian tepi jalan raya.Desa Sade Rembitan ini merupakan salah satu dusun tradisional yang masih bertahan diantara ratusan dusun tradisional yang ada di Indonesia.Inilah hidden paradise yang membuat desa ini layak diangkat sebagai bagian dari Terios7 Wonders. Semoga tetap bertahan ditengah arus derasnya modernisasi.

        Puas bercengkerama dengan keseharian suku Sasak di Desa Sade Rembitan,team Sahabat Petualang beranjak menuju Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan untuk memberikan bantuan perangkat pendidikan sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility Daihatsu Mataram.
Setelah itu team bergegas menuju ke sebuah pantai eksotis di sekitaran Lombok,Pantai Pink (Pink Beach).Lokasi pantai ini kira-kira 70 km arah selatan dari desa Sade Rembitan yang masih satu area dengan Pantai Ringgit.Bukan perkara mudah untuk menggapai Pantai Pink ini.Tanah tandus merangai menyambut 18 km menuju pantai.

 
Kondisi jalan yang rusak dan berdebu harus dilalui oleh team Sahabat Petualang.Untungnya 7 unit Terios sanggup meladeni kondisi seperti ini dan menyudahinya dengan sukses.Segalapenat sepanjang perjalanan terbayar lunas oleh pemandangan Pantai Pink,lengkap dengan panorama alaminya.Selain pantainya yang eksotik,area tebing curam seolah berpadu apik dengan guratanalam lainnya di lokasi Pantai Pink ini.
Hanya satu kata yang bisa diucapkan.Sempurna.


2. Daya Tarik Sumbawa

      Memasuki hari ke-10 petualangan Terios Wonder;Hidden Paradise mendapatkan tantangan dari lamanya waktu perjalanan hingga bentang alam pulau Sumbawa.Rute Lombok-Dompu di pulau Sumbawa menjadi rekor panjangnya rute perjalanan.Kurang lebih 585 km mesti dilakoni oleh team Sahabat Petualang.Walaupun kondisi di lapangan pulau Sumbawa menuju kota Dompu banyak dikelilingi perbukitan yang gersang,jangan salah sangka dulu dengan infrastruktur jalan rayanya.Jalan menuju ke Dompu benar-benar jalan mulus dengan kualitas aspal hotmix (nomor satu).Memang kontras dengan kondisi lingkungan yang tandus justru disuguhi infrastruktur jalan yang baik.




Kiri kanan tanah gersang tapi kondisi jalannya malah bagus

Jalan berliku dengan kualitas aspal nomor satu di sepanjang Pulau Sumbawa

Pelebaran dan perawatan jalan menuju ke pantai Lakey

         Bagi mobil DaihatsuTerios yang digunakan dalam ekspedisi ini tidak mengalami kesulitan.Di medan yang lebih ekstrem saja, Terios mampu menaklukannya apalagi di jalanan yang mulus seperti di sepanjang pulau Sumbawa ini.Setelah merasakan menyusuri mulusnya insfrastruktur jalan antara Pelabuhan Poto Tanu hingga Dompu, team Sahabat Petualang pun akhirnya sampai di pesisir Pantai Lakey dinihari.Dan menginap disalah satu penginapan yang ada di pantai tersebut.Oh,ya pantai Lakey ini sangat terkenal gulungan ombaknya di kalangan peselancar mancanegara.Deburan ombaknya sangat menantang bagi para penggila selancar selain panorama alamnya yang menakjubkan.
Datang ke Dompu tidak puas rasanya kalau tidak merasakan minuman/kudapan tradisional masyarakat Sumbawa,susu kuda liar Sumbawa.Team Sahabat Petualang pun menyempatkan diri mengunjungi salah satu tempat peternakan kuda liar, yaitu di desa Palama, Donggo, Bima Nusa Tenggara Barat.

 










          Tentu banyak yang bertanya-tanya,bagaimana caranya memerah susu kuda liarnya.Ternyata yang dimaksud dengan kuda liar tersebut adalah kuda kuda tersebut digembalakan di alam liar serta berkembang biak juga di alam liar. Jadi kuda-kuda tersebut tidak mempunyai kandang seperti kuda-kuda ternak pada umumnya. Walaupun begitu status kepemilikan kuda tersebut jelas. Kata susu kuda liar akhirnya menjadi ciri khas dari peternakan kuda asal kawasan tersebut.
Pesona Dompu-Bima begitu menggoda,tidak hanya panorama alamnya yang menakjubkan,susu kuda liar Sumbawa juga menjadi daya tarik kawasan tersebut.Akhirnya surga dari Sumbawa terkuak dalam ekspedisi Terios7 Wonder Hidden Paradise ini.

3. Misi Pamungkas ; Terios bertemu Komodo

          Inilah tujuan akhir dan puncak acara dari ekspedisi Terios 7 Wonder Hidden Paradise,Pulau Komodo. Tepat pada tanggal 13 Oktober 2013,inilah pertama kali sosok transporter hadir di Pulau Komodo.Istimewanya sosok tersebut adalah Daihatsu Terios yang mengusung misi Terios 7 Wonder hidden Paradise Jakarta-Komodo Islands 2013.Menjadi saksi sempurnanya perjalanan eksotik di Pulau Komodo.


          Bukan perkara mudah “mendaratkan” Terios di pulau Komodo.Team Sahabat Petualang harus mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari Sape hingga tiba di Labuhan Bajo,Manggarai,NTB.Dengan bantuan pihak terkait,kapal Phinisi Lafina dari Bone,Sulawesi Selatan siap mengantar team Sahabat Petualang beserta Terios berlabuh di Pulau Komodo.Kapal Phinisi Lafina berangkat pukul 5 pagi dari Labuhan Bajo. Sepanjang jalur pelayaran banyak pulau kecil terhampar di laut biru Manggarai Barat. Pulau besar seperti Rinca, Kenawa, hingga Pink Beach menjadi tujuan mengeksplorasi wisata di pulau eksotis Komodo di samping kegiatan menyelam tentunya.4 jam lamanya pelayaran dari Labuhan bajo ke Pulau Komodo.Seluruh peserta baik dari awak media, blogger hingga para petinggi manajemen Astra Daihatsu Motor hadir dalam acara puncak tersebut. Selebrasi sekaligus rasa syukur sukses tim dan Terios hadir di Pulau Komodo.


Seolah tidak puas bila tidak menyambang Pulau Komodo dengan segala ke-eksotisannya,tanpa melakukan Tracking. Untungnya, para ranger pun menemani kami menjelajah Loh Liang sekaligus menikmati sebagian area bermain sang Naga (Dragon) alias komodo.Benar saja, sosoknya langsung menyapa kami. Sepintas, sosoknya seolah tidak berdaya. Namun, para Sahabat Petualang tetap waspada. Maklum, air liur dan gigitnya yang mengandung bakteri cukup mematikan bila sang Naga ini menyerang. Ada sekitar 7 Komodo yang kami jumpai.

Puas, pastinya. Inilah akhir perjalanan Terios 7 Wonders:Hidden Paradise 2013. Pastinya, masih banyak surga-surga yang tersembunyi di bumi Nusantara yang siap diungkap. Setidaknya, 7 spot dalam perjalanan ini
menjadi penghapus dahaga Sahabat Petualang untuk mengeksplorasi lebih jauh dan dalam.
 Tonton video perjalanan Teriso 7 Wonder Hidden Paradise selengkapnya di bawah ini :


Penutup

Perjalanan panjang menembus 3.012 kilometer dari Jakarta – Pulau Komodo butuh sosok kendaraan yang tangguh. Sahabat Petualang dari Daihatsu membuktikan ketangguhan itu. Jalan aspal mulus, jalur bebatuan hingga semi offroad sukses dilalui Terios. Kepenatan seolah sirna setelah misi berhasil direngkuh. Inilah aksi Daihatsu Terios menembus batas dari Jakarta menuju Pulau Komodo.Menjadi istimewa lagi, sosok Terios juga hadir bersama tim di destinasi terakhir di pulau eksotik ini.


 
One team,one soul. Beragam latar melebur dalam jadi satu menuntaskan misi. Awak media,blogger dan Astra Daihatsu Motor berkolaborasi dalam ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise. Kerja cerdas dan sinergi membuahkan hasil. Selamat buat tim.
 








Read More »

Petualangan bersama Daihatsu “Terios 7 Wonders Hidden Paradise “

            (Edisi Pulau Jawa)

           Pesona keindahan alam Indonesia memang tiada habisnya di jelajahi.Di setiap daerah di Indonesia terdapat berbagai karakteristik alam yang exsotik, beragam obyek wisata budaya yang menggambarkan Ratna Mutu Manikam .Untuk menelusuri berbagai surga yang tersembunyi tersebut,Daihatsu Indonesia menggelar ekspedisi Terios 7 Wonders Hidden Paradise 2013 yang menjelajahi wilayah Jawa hingga Pulau Komodo menempuh perjalanan selama 14 hari dengan jarak tempuh 3000-an kilometer. Dengan didukung tunggangan model anyar dari Daihatsu,Terios Face Lift sebanyak 7 unit yang melibatkan sejumlah awak media cetak,media elektronik,media online dan blogger,menjadi ajang untuk mempertegas ketangguhan performa Terios dalam menyusuri medan darat dengan berbagai macam trek.
Read More »