Showing posts with label Ekspedisi kopi Sumatera. Show all posts
Showing posts with label Ekspedisi kopi Sumatera. Show all posts

Sunday, August 24, 2014

Berburu Surganya Kopi Arabika di Bumi Andalas

           Setelah team Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise sukses menguak kenikmatan aroma kopi Robusta sejak dari Liwa di Lampung hingga kopi Empat Lawang di Sumatera Selatan (klik disini kisahnya),ekspedisi Sahabat Petualang dilanjutkan kembali. Tujuan selanjutnya adalah menikmati aroma kopi Curup atau kopi Bengkulu.

1. Hematnya Kopi Curup
 
       Jalanan yang mulus serta dibeberapa lokasi bergelombang dan meliak liuk di rute Pagar Alam – Kepahiang – Curup benar benar menguji performa Daihatsu Terios. Untungnya Terios sudah disematkan berbagai fitur andalan EPS yang memudahkan bermanuver serta sistem kemudi yang ringan.
Sebelum mengunjungi sentra perkebunan kopi serta pabrik pengolahannya,team Sahabat Petualang isitrahat sebentar sambil menikmati nikmatnya kopi Curup yang dijual disalah satu kedai kopi di dekat pasar. Rasa kopi Curup ini memiliki kekhasan tersendiri.Uniknya ampas kopi yang di daerah lainnya dibuang,di Curup ini ampas kopinya bisa diseduh kembali. Hemat..khan.
Setelah puas menikmati aroma kopi Curup,team Sahabat Petualang menuju kesalah satu sentra perkebunan dan pengolahan kopi di Curup. Proses pengolahan kopi di Curup ini hampir sama dengan pengolahan kopi di Pagar Alam.Drum oven untuk me-roaster biji kopi sudah diputar dengan tenaga penggerak dari mesin disel. Sedangkan bahan bakarnya dari kayu bakar kering.

        Sayangnya waktu itu bukan musim panen kopi,walaupun di kebun kopi sudah banyak ditemui buah kopi yang sudah berwarna merah tua.Tandanya buah tersebut sudah layak diolah menjadi kopi bubuk.
Di Curup dan di Kepahiangan ini,kopi merupakan komoditas utama masyarakat setempat.Tak heran hamparan kebun kopi ada dimana-mana. Selain industri kecil yang beroperasi melakukan pengolahan kopi,industri menengahpun hadir untuk memproses buah kopi warga.Pemasaran kopi Curup ini pun sudah menembus luar daerah Curup.
Tak mengherankan bila kopi Curup ini sudah menjadi motor perekonomian masyarakat desa setempat.

       Puas menikmati keindahan alam sentra kopi di Curup serta menikmati uniknya kopi Curup,team Sahabat Petualang pun melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Bengkulu. Selepas kota Curup,jalanan menuju ke kota Bengkulu melewati kawasan perbukitan dengan medan jalan yang berkelok kelok.

       Perjalanan Terios 7 Wonders Sumatera Coffee Paradise ini bukan hanya sekadar menguak sentra kopi belaka di Bumi Andalas. Namun lebih dari itu, Sahabat Petualang juga berbagi kepada sesama sesuai konsep Corporate Social Responsbility (CSR) PT Astra Daihatsu Motor.

Hari ke-6, Tim Terios 7-Wonders yang tiba di Bengkulu menyempatkan hadir pada acara CSR Daihatsu kepada lima Posyandu dan UKM yang dipusatkan di cabang Daihatsu jalan S Parman, Bengkulu. Kegiatan CSR ini dihadiri sejumlah pejabat Pemkot Bengkulu dan Daihatsu.

Lima Posyandu yang menerima bantuan adalah Anak Bangsa, Mekar Sari, Damai, Flamboyan dan Candra. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Tiara, Ikan Pais “Ibu Jumi”, Jepara Maju, Keripik Ikan EZ dan Kopi Bubuk Mandela. Usai CSR, Sahabat Petualang menyambangi beberapa lokasi bersejarah. Tempat tinggal Ibu Fatmawati Soekarno dan rumah pengasingan, Bung Karno tidak alpa kami kunjungi selain wisata kuliner.


Setelah berisitrahat selama 1 hari di Bengkulu,saatnya memasuki etape yang bakal menguji fisik dan stamina team Sahabat Petualang.Tujuan team selanjutnya adalah kota Mandailing Natal di Sumatera Utara.

2. Kopi Madina yang meredup pamornya

        Inilah rute terpanjang dari ekspedisi Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise.Rute Bengkulu menuju ke kota Mandailing Nata via Bukit Tinggi - Tarutung yang berjarak 628 km nyaris ditempuh seharian.Stamina anggota team terkuras menmpuh perjalanan seharian ini. Untungnya mobil tunggangan team,3 unit Terios dalam performa terbaiknya sehingga mampu melibas segala ragam medan di lapangan.Selepas dari Bengkulu,kondisi jalanan masih dalam keadaan mulus,akselerasi Terios pun bisa dimaksimalkan dalam rute ini. Menyusuri jalanan di pinggir pantai barat Sumatera membuat anggota team bergembira setelah sebelumnya hanya disuguhi pemandangan alam perbukitan saja. Pesona pantai barat Sumatera pun tak luput dari eksplorasi team Sahabat Petualang. Rehat sejenak di pinggir pantai dengan angin laut yang bertiup semilir membuat rasa lelah dan penat anggota team Sahabat Petualang sedikit berkurang.


  
        Untuk mempersingkat waktu,team pun segera bergerak menuju ke kota Bukit Tinggi. Infrastruktur jalan menuju ke kota Bukit Tinggi masih dalam keadaan mulus walaupun dibeberapa tempat terdapat jalan rusak yang sangat parah.Jalanan bergelombang yang menciptakana kubangan air dimana-mana,tentunya ini membahayakan keselamatan berkendara. Suspensi Terios yang didesain untuk segala medan terbukti cukup ampuh meredam guncangan melewati rute menuju ke Bukit Tinggi ini. Team Sahabat petualang pun sempat diguyur hujan lebat bahkan ada jalan dibeberapa tempat yang mengalami banjir kecil. Ground Clearence Terios yang tinggi memudahkan Terios melibas adanya banjir kecil tersebut. 

         Memasuki wilayah Tarutung,pemadangan alam pedesaan terpampang didepan mata.Tanaman kelapa diselingi dengan tanaman padi milik warga berada di kanan kiri jalan.Udara yang sejuk dan segar khas alam pedesaan membuat lelah yang mendera anggota team Sahabat Petualang berkurang.

Rute dari Bukit Tinggi menuju ke Tarutung ini merupakan rute paling menguji andreanalin team Sahabat Petualang.Tidak bisa dibayangkan seandainya tunggangan yang dipakai saat itu kehabisan bahan bakar ditengah jalan.Sementara keberadaan SPBU disepanjang jalan tidak jelas keberadaanya.Ketakutan dan keraguan tersebut ditepis oleh performa mesin Daihatsu Terios yang selain handal,kuat dan bertenaga tapi tetap irit bahan bakar.


        Trek jalanan yang hanya cukup dilalui satu mobil mmendominasi rute Bukittingi - Tarutung ini. Lokasi tujuan yang terletak di dataran tinggi membuat akselerasi Terios tidak dapat maksimal.Untungnya team Sahabat Petualang sewaktu melewati rute semak belukar tersebut kondisi cuaca cukup bersahabat,walaupun terlihat sebelumnya turun hujan gerimis di sepanjang rute tersebut.

        Setelah sampai di Mandailing Natal,team Sahabat Petualang menyempatkan diri menikmati kopi khas Mandailing di sebuah kedai kopi. Aroma kopi Mandailing ini harum baunya dan mantap rasanya,sebagian besar kopi arabika yang menjadi pilihan di Mandailing, tukas pemilik kedai kopi.Menurut catatan sejarah,bangsa Belanda yang membawa kopi ke wilayah ini sejak tahun 1699. Di kecamatan Pakantan lah sentra pengembangan kopi pertama yang berdiri di Sumatera ini. Dengan lokasi yang berada pada ketinggian diatas 1200 meter dari permukaan laut, kopi jenis arabika yang cocok berkembang sesuai alam Mandailing ini. Sayangnya saat ini pamor kopi Mandailing sudah meredup,padahal dulunya kopi adalah komoditas ekspor utama hingga ke Eropa.
 
Untuk menelusuri keunikan dan karakteristik dari kopi Madailing ini,team Sahabat Petualang mengunjungi perkebunan rakyat yang berada di perbukitan hijau. Jalur semi-offroad mesti dilakoni ketiga Daihatsu Terios. Bukan perkara mudah, untuk menuju ke lokasi. Jaraknya 25 kilometer dari kedai tempat team Sahabat Petualang singgah. Jalan sempit dan berlubang mendominasi menuju perkebunan rakyat. Akhirnya, kami sampai di desa Langgamtama Simpang Banyak Mandailing yang diapit perbukitan rindang.

Luas lahah perkebunan kopi yang dikelola oleh rakyat desa Langgamtama tersebut adalah 50 hektar. Sementara diarea lainnya terdapat 150 hektar lahan perkebunan kopi yang dikelola oleh warga negara asing. Hampir seluruhnya tanaman kopi yang ditanam di perkebunan tersebut berjenis kopi arabika. Sementara perkebunannya sendiri masih begitu sederhana dan konvensional. Malah cenderung tradisional. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah setempat beserta segenap masyarakat agar potensi kopi Mandailing yang sudah redup dapat bersinar kembali. Setidaknya, potensi dan karakteristik itu masih ada di Kopi Mandailing.

Kalau bukan kita yang melestarikan kopi Mandailing,siapa lagi.

Sebelum menuju ke destinasi terakhir perburuan sentra kopi di Sumatera yaitu menuju ke Takengon,tema Sahabat Petualang mampir sebentar di kota Medan tepatnya di cabang Daihatsu, jalan Sisingamangaraja No. 170 Medan untuk ikut menyaksikan penyerahan bantuan CSR Daihatsu dalam rangka ulang tahun Daihatsu yang ke 105. Bantuan CSR diberikan kepada 2 Posyandu (Kenanga 1 dan Mawar XII) dan 5 UMKM (Wolken, Keripik Pisang Bu Nur, Keripik Cap Merak, Berkat Rahmat dan Sirup Markisa Brastagi Bee).

Sebelum bertolak menuju ke Takengon,Aceh Tengah,team Sahabat Petualang berkesempatan menyambangi salah satu posyandu yang menerima bantuan CSR dari Daihatsu,yaitu Posyandu Kenanga 1 yang berlokasi di Kantor Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota,Kota Medan.


Berbagai peralatan untuk mendukung kegiatan posyandu seperti timbangan, termometer, stetoskop hingga permainan edukatif diterima oleh posyandu kenanga 1. Harapannya kegiatan Posyandu Kenanga 1 akan semakin meningkat sehingga proses tumbuh kembang anak dapat dimaksimalkan.

Saatnya team Sahabat Petualang bergerak dan siap menuju ke tempat perburuan kopi terakhir yaitu menuju ke Takengon,Kabupaten Aceh Tengah,Nanggroe Aceh Darussalam.

3. Kopi Gayo, Kopi kebanggan Aceh

Selepas dari kota Medan, infrastruktur jalan raya terbilang mulus dan kondisi lalulintasnya cukup sepi. Akselerasi kecepatan Terios pun dapat dimaksimalkan.Mendekati perbatasan antara Sumatera Utara dengan NAD, kondisi jalanan mulai berbukit dan berliku-liku.


         Kondisi jalan yang sedikit rusak serta melewati proyek jalan yang belum selesai menjadi menu wajib dari ekspedisi ini.Belum ditambah jalan yang masih berupa tanah,tentu diperlukan kehati-hatian dari pengemudi team apalagi kondisi tanahnya habis diguyur hujan.Kondisi jalanan yang licin bisa memicu Terios mengalami selip ban.Di Rute Medan – Langsa– Bireun – Bener Meriah – Takengon ini suspensi Terios benar benar diuji kehandalannya.Untungnya selama berada di medan,3 unit Terios telah menjalani “medical check up” dengan perubahan salah satunya pada peredam dan shock absorber baik depan maupun belakang.Perubahan ini terbukti ampuh melibas trek ini. Seluruh kru Sahabat Petualang plus bawaan ekstra mampu terakomodasi oleh sosok Terios. Bahkan sebelum mencapai lokasi tujuan,team Sahabat Petualang masih mendapatkan rintangan di jalur light offroad Oregon di Takengon menjadi tantangan. Sekedar informasi, trek Oregon menjadi “ajang” uji kehebatan komunitas 4WD setempat. Dan Terios yang notabene berpenggerak 2WD mencoba tantangan itu.

Begitu ketiga Terios mampu melibas jalur Oregon, kian manis, perjuangan tim Terios 7 Wonders: Sumatera Coffee Paradise langsung dihadapkan pemandangan eksotis, hamparan Danau Laut Tawar nan indah membayar tuntas perjalanan menantang ini.


            Hijau dan sejuk menyapa team Sahabat Petualang di Takengon.Pemandangan khas pegunungan dengan udara yang masih bersih serta lingkungan yang masih asri serta tanaman kopi yang ditanam warga dipinggir jalan menambah eksotisnya wilayah Takengon. Kopi jenis Arabika mendominasi perkebunan yang membutuhkan tingkat ketinggian di atas 1.300 meter dari permukaan laut ini.

Team berkunjung ke salah satu sentra Kopi Gayo, Ketiara di Takengon.Melihat secara langsung petani kopi memetik buah kopi,dikeringkan dengan dijemur di lantai semen hingga pemilihan biji kopi kering sesuai dengan kualitasnya dilakukan di Ketiara ini. Dilokasi pabrik,team mendapat penjelasan tentang berbagai jenis kopi khas Gayo yang menjadi produk andalan di Ketiara. Tidak ketinggalan team langsung merasakan kenikmatan kopi Gayo ditempat asalnya.

           Kopi sudah menjadi industri yang menjanjikan di Takengon. Mulai dari koperasi, usaha dagang (UD) hingga perusahaan terbatas hadir mengelola industri ini. Tidak jarang, buyer dari lokal hingga mancanegara langsung datang untuk bertransaksi. Untuk menjaga kualitas, laboratorium serta upaya menjaga mutu menjadi hal mutlak. Bahkan tester andal bersertifikat hadir untuk menjaga hal itu. Maklum, untuk pasar mancanegara, butuh kestabilan dan karakter rasa dan mutu kopi itu sendiri.

Kopi bak harta berharga yang terpendam dari Bumi Serambi Mekkah. Tidak heran, kopi dan masyarakat begitu bertautan. Dengan letak geografis serta pengolahan yang detail dalam pemrosesan membuat Kopi Gayo begitu berkarakter. Tidak heran, kalau masa kolonial Belanda hingga Jepang, komoditi kopi menjadi andalan yang dikembangkan

Dengan aroma dan citra rasa yang khas, kopi Gayo serta sudah tersebar aromanya hingga mancanegara sudah selayaknya kopi Gayo menjadi kopi kebanggaan bangsa, tidak hanya menjadi kopi kebanggaan Aceh saja.

Finish di Pulau terbarat Indonesia

      Puas menikmati aroma kopi legendaris khas Aceh,team Sahabat Petualang bergerak menuju ke Titik Nol Kilometer,dimana batas negara republik Indonesia dimulai. Rute Takengon – Banda Aceh Terios tidak menemui kendala yang berarti. Trek jalanan tanah disertai banyaknya debu beterbangan tidak menghalangi Terios melaju.

Setelah seharian menempuh perjalanan ,akhirnya team Sahabat Petualang sampai di pelabuhan untuk menuju ke Pulau Sabang.

 




          Akhirnya, tanggal 24 Oktober 2012 Sahabat Petualang dengan kru 10 orang berlabuh di Pulau Weh Kabupaten Sabang, Nangroe Aceh Darussalam dengan selamat tepat waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Daihatsu (PT Astra Daihatsu Motor) menjadi APM pertama yang sukses menjejakkan kaki kali pertama di ujung Negeri Serambi Mekkah. Selepas pelabuhan Sabang,membutuhkan waktu 45 menit menuju lokasi titik Nol Kilometer yang berada di kawasan Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba’u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Terdapat prasasti 2 prasasti yang terbuat dari batu granit yang bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia yang diukur oleh pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Prasasti kedua menjelaskan posisi geografis tempat ini yaitu Lintang: 05o 54’ 21.42” LU. Bujur: 95o 13’ 00.50” BT. Tinggi: 43.6 Meter (MSL). Posisi Geografis dalam Ellipsoid WGS 84”.


      Monumen ini menjadi sejarah kehadiran Terios 7 Wonders: Sumatera Coffee Paradise dan manajemen Astra Daihatsu Motor menjejakkan kaki di sini. Pekikan sejarah sang proklamator,Bung Karno, “Dari Sabang Sampai Merauke” seolah kembali menggema sekaligus menegaskan rasa kebanggaan sebagai bangsa. Yup, dari Titik Nol Kilometer inilah penegasan kebangsaan kembali membuncah. Monumen inilah yang menjadi simbol perekat bangsa Indonesia yang terkenal dengan slogan “Dari Sabang Sampai Merauke”.

 
       Selain menguak surganya kopi di Pulau Sumatera,perjalanan membuktikan Daihatsu Terios tangguh berkendara di segala medan. Meski disiksa menjelajah alam Sumatera, Terios tetap tangguh hingga sukses di titik nol kilometer di Sabang. Ketiga Terios sukses menjelajah hingga 3.657,1 kilometer. Pencapaian yang luar biasa dari Daihatsu Terios.
Sebagai wujud rasa syukur atas pencapaian Terios dalam ekspedisi menguak surganya kopi di Sumatera ini,pada tanggal 25 Oktober 2012 bertepatan dengan hari raya Idul Adha,manajemen Daihatsu menyerahkan 3 ekor sapi qurban kepada Takmir Masjid Baiturrahman,Banda Aceh.



         Perjalanan panjang selama 15 hari dalam ekspedisi Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise tidak hanya menguak sentra sentra kopi legendaris saja,tapi juga sebagai uji ketangguhan dan kehandalan dari produk Daihatsu Terios dalam melintasi medan dengan karakter jalan yang bervariasi. Dan Terios sukses menaklukkannya. Selamat buat Daihatsu Terios.....

Tonton video perjalanan Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise selengkapnya di bawah ini :






 


Read More »

Wednesday, August 20, 2014

Menguak Kenikmatan Kopi Bumi Andalas

Pengantar

          Keindahan alam serta hasil bumi Indonesia memang tiada habis-habisnya di eksplorasi.Dalam rangka menguak kekayaan alam Indonesia terutama sentra penghasil kopi berkualitas di Bumi Andalas, PT.Astra Daihatsu Motor mengadakan ekspedisi dengan tema Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise. Pulau Sumatera yang menjadi target ekspedisi ini selain terkenal akan keindahan alamnya juga terkenal sebagai penghasil kopi berkualitas.Sebagaimana kita ketahui kopi di Indonesia sekarang sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang sangat menarik. Dan di Indonesia sangat terkenal dengan kopi luwaknya. Perjalanan ini merupakan sebuah penggambaran brand Terios sebagai “Sahabat Petualang” sejati serta mengajak masyarakat Indonesia untuk bertualang mencari kopi luwak yang terenak di Sumatera. Mulai dari kopi luwak di Liwa,Lampung sampai kopi luwak di Gayo,Nanggroe Aceh Darussalam.

Persiapan Team Sahabat Petualang
  
         Dalam event ekspedisi Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini,Daihatsu menyiapkan 3 unit kendaraan Terios Hi-Grade terdiri 2 TX bertransmisi matik dan TX manual.Bertenagakan mesin 3SZ-VE DOHC VVT-i berkapasitas 1495 cc, Terios akan diuji ketangguhannya di medan perjalanan yang bervariasi kontur jalannya. Perjalanan panjang lebih kurang 3600 km selama 15 hari bakal dilakoni tim Sahabat Petualang. Persiapan matang pun dilakukan,3 unit kendaraan “dipulihkan” performanya di bengkel resmi Daihatsu.Berbagai fitur keselamatan dan kenyamanan yang disematkan di Terios dilakukan pengecekan ulang.Untuk menjamin kenyamanan para peserta Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini. Persiapan selanjutnya mengakomodasi barang bawaan team Sahabat Petualang,perlengkapan dan peralatan selama perjalanan menjadi prioritas.Saking banyaknya barang bawaan,2 unit mobil Terios harus dipasangi roof box dan roof bag.Maklum saja karena peserta Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise ini meliputi media cetak,elektronik hingga media online.
  
           Misi utama dari petualangan ini adalah membuka mata dunia akan kekayaan alam Indonesia terutama pulau Sumatera. Singkatnya, 10 Oktober 2012 tepatnya pada pukul 10 pagi di Vehicle Logistic Center Daihatsu, Jakarta, tim Sahabat Petualang resmi dilepas oleh manajemen PT Astra Daihatsu Motor.

 
         Kini saatnya kita ceritakan ekspedisi menjelajahi keindahan alam dan petualangan sentra-sentra penghasil kopi di Bumi Andalas hingga titik nol kilometer di Sabang, dalam rangkaian cerita yang akan menggambarkan keseruan dan menguras tenaga dan stamina selama perjalanan.

1. Aroma Kopi Luwak Liwa begitu menggoda 
          Tujuan pertama team Sahabat Petualang setelah mendarat di Bakauheni adalah Liwa,Lampung. Tujuan awal menuju sentra pengolahan kopi KUD Karya Utama di Sipatuhu. Hari Jumat 12 oktober 2012, team Sahabat Petualang memasuki kota Liwa setelah sebelumnya berjibaku di jalanan menghindari iring iringan truk dan bus rute lintas Sumatera.Aura kopi mulai terasa,atribut serta warung kopi bertebaran di berbagai sudut kota.Perkebunan kopi rakyat mulai tampak di jalur Liwa – Danau Ranau. Infrastruktur jalan yang mulus di rute Liwa – Danau Ranau yang di samping kanan kirinya perbukitan hijau yang merupakan perkebunan rakyat, Terios seolah tidak mengeluh kelelahan.Performa mesin Terios tetap mantap walaupun jalanan banyak tikungan dan berkelok kelok.

 
         Tiba di lokasi,di KUD Karya Utama,team Sahabat Petualang langsung diajak menuju ke pabrik pengolahan kopi Liwa.Proses pengolahan biji kopi di KUD Karya Utama ini masih bersifat manual.Dari proses pemilahan biji,proses sangrai hingga proses penggilingan masih mengandalkan tenaga manusia.Untuk peng-ovenannya membutuhkan suhu 190 derajat Celsius untuk mencapai kualitas dan warna yang diinginkan. Istimewanya, kelompok petani kopi di KUD Karya Utama ini berani berinovasi dengan menambahkan aroma gingseng serta aroma pinang. Ya memang harus ada pengembangan produk untuk memenangkan persaingan pasar.



Puas melihat proses pengolahan biji kopi didalam pabrik,team Sahabat Petualang pun diajak ke kebun kopi untuk melihat secara langsung bagaimana memetik buah kopi yang sudah matang. Kini saatnya kopi Luwak menjadi menu selanjutnya. Istimewanya,masih disekitar sentra kopi Danau Ranau ini mengkhususkan luwak. Beruntungnya, kami menyaksikan langsung beberapa luwak atau musang liar yang diberdayakan oleh petani. Tidak semua biji kopi dimakan oleh luwak. Hanya biji kopi pilihan dan punya kualitas terbaiklah yang dimakan. Cara mudah menentukan biji kopi terbaik bisa tampak dari warnanya yang merah dan tenggelam saat hendak direndam air.

Bila sang musang sudah memakan biji kopi terbaik, setidaknya minimal 6 jam kemudian, setelah mengalami fermentasi di dalam pencernaannya,dikeluarkan kembali via feses dalam bentuk sekumpulan biji.Inilah kotoran hewan termahal di dunia. Pembersihan dan pengeringan kembali menjadi langkah selanjutnya sebelum dikirim ke pengolah kopi dan siap dipasarkan.Selain melayani pasar lokal,KUD Karya Utama juga kerap memasok berbagai hotel di Jakarta. Dengan harga satu kilogramnya mencapai 1.9 juta rupiah,jelasnya harga sebanding dengan produksi yang dihasilkan.Setelah puas mengamati proses produksi dan menikmati kopi luwak Ranau,team Sahabat Petualang pun beranjak meninggalkan Liwa dan menuju ke Lahat.

2. Keramahan Kopi Lahat 



        Team Sahabat Petualang tiba di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan menjelang pukul 20.00 WIB setelah sebelummnya mengunjungi dan menikmati aroma kopi Liwa di Lampung. Citra Lahat yang sebelumnya kurang bersahabat,saat ini mulai berubah. Pemerintah daerah sudah membenahi infrastruktur jalan serta penerangan jalan raya,sehingga kondisi Lahat di malam hari terlihat terang. Team Sahabat Petualang mendapatkan kehormatan karena langsung disambut oleh Bupati Lahat,Bpk Haji Saifudin Aswari Riva’i dan staf-nya.
       Dari penjelasan Pak Bupati Lahat,memang masyarakat Lahat sejak jaman dulu sudah menjadi petani kopi sehingga budaya minum kopi di masyarakat Lahat sudah tidak asing. Kebun kopi banyak bertebaran di Lahat,sayangnya pemasarannya banyak dikuasai oleh tengkulak sehingga harga kopi di tingkat petani kerap dipermainkan. Bapak Bupati pun memberikan apresiasi kepada team 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise yang programnya sejalan dengan program Pemerintah Daerah Lahat untuk mengangkat kembali kopi Lahat yang sempat populer. Sehingga bisa menggairahkan kembali para petani di Lahat untuk mengolahkembali kebun kopi yang telah lama ditinggalkannya. Esok harinya Team Sahabat Petualang mengunjungi home industry pengolahan kopi tradisional milik privatir, Bpk Zahari Cikman yang sejak tahun 1980 sudah memulai produksinya.


          Masuk ke dalam lingkungan pabriknya,proses pengolahannya begitu sederhana,Mulai dari bahan baku pembakaran batok kelapa, proses berendang (sangrai) hingga penggilingan sampai 2 kali untuk mendapatkan kopi yang siap saji. Tabung oven untuk proses sangrai biji kopi pun masih diputar manual oleh tenaga manusia.Hanya proses penggilingan saja yang dilakukan oleh mesin bertenaga disel.
Walaupun proses pengolahan biji kopi di Lahat ini masih mengandalkan teknologi yang sederhana,namun tidak mengurangi kualitas dan aroma khas kopi Lahat.



         Dari pemilik usaha Bpk Zahari Cikman,Tema Sahabat Petualang mendapatkan penjelasan tentang penentuan kualitas kopi melalui kadar kering bijinya. Umumnya dari petani kopi kadar airnya mulai dari 15% hingga 17% sehingga dibutuhkan proses pengeringan lagi selama 4 hingga 6 hari.Untuk kapasitas produksinya,usaha pengolahan kopi milik Bpk Zahari Cikman ini mampu mengolah kopi hingga 100 kg/hari.Semua karyawannya berasal dari lingkungan sekitar pabrik.Selama ini tidak ada kendala di pemasarannya,semua produk kopi dapat terserap pasar. Tidak hanya dipasarkan di Lahat saja tapi juga sampai ke Rajabasa,Palembang dan sekitarnya.
      Upaya pak Bupati dan Cikman mengembalikan kejayaan kopi Lahat memang membutuhkan dukungan semua pihak. Setidaknya, langkah mereka memberikan kebanggaan serta mengangkat peri kehidupan masyarakat, terutama petani kopi menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Ekspedisi Team Sahabat Petualang selanjutnya menuju ke sentra kopi yang memiliki panorama alam serta hamparan perkebunan kopi yang elok dan nan indah, Pagar Alam.

3. Pesona Kopi Pagar Alam 

        Lokasi Pagar Alam ini hanya berjarak 48 km dari Lahat. 11 tahun yang lalu, Pagar Alam memang masih menjadi satu wilayah dengan Lahat sebelum akhirnya memekarkan diri. Jalanan menuju ke Pagar Alam terlihat mulus walaupun di banyak lokasi jalanan berkelok kelok serta di kanan kirinya bukit bebatuan. Dengan 2 unit Terios varian matic dan 1 unit terios manual memang menuntut kewaspadaan di jalan.Apalagi memasuki perbatasan kota Pagar Alam,kondisi jalanan disertai dengan tanjakan terjal.Walaupun akhirnya 3 unit Terios tersebut sukses mengatasi tantangan jalanan ini. Udara sejuk serta pemandangan alam yang menghijau mendomisi Pagar Alam. Hamparan kebun kopi membentang di lereng Gunung Dempo dan kopi menjadi komoditi andalan Pagar Alam. Team Sahabat Petualang pun penasaran dan segera menuju ke salah satu perkebunan kopi khas ini.

        Memang saat itu bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Pagar Alam.
Maklum bukan momen panen. Namun demikian bukan berarti para petani penggarap kopi melakukan aktivitas di luar momen itu. Walaupun tidak setiap hari,petani penggarap kopi tetap menjaga kondisi pohon kopi seperti mengontrol daun bila ada yang tidak sehat segera dibuang. Tidak jarang pula memetik buah kopi yang sudah ranum.
Kalau pas musim panen kopi,dalam sekali petik para petani mendapatkan sekitar 5 keranjang/orang.
Setelah “blusukan” ke kebun kopi,team Sahabat Petualang diajak untuk melihat proses pengolahan kopi Pagar Alam disalah satu pabrik yang berada tidak jauh dari kebun kopi tersebut.
        Kopi hasil dari memetik di kebun kopi tersebut segera dipisahkan biji dan cangkangnya. Beruntung, team Sahabat petualang dapat melihat langsung proses pemisahan biji dan cangkangnya.Prosesnya dimulai dari biji kopi disangrai didalam oven yang berbentuk silinder yang dipanaskan dengan kayu bakar dan diputar dengan mesin.Setelah itu biji kopi yang sudah dalam keadaan kering,dimasukkan kedalam mesin pemisah biji dan cangkangnya.Setelah terpisah biji kopi dimasukkan lagi kedalam oven silinder lagi.

       Proses pengolahan kopi di Pagar Alam dengan di Liwa ternyata hampir sama pemrosesannya. Perbedaannya hanya cara me-roaster biji kopinya.Wadah untuk mer-oaster di Liwa dan di Pagar Alam pun hampir sama.Perbedaannya hanya pada penggerak drum roaster-nya saja.Kalau di Lahat masih diputar manul dengan tenaga manusia,di Empat Lawang sudah menggunakan tenaga mesin.Sementara untuk proses penggilingannya pun sama, yaitu menggunakan 2 mesin.Mesin pertama biji kopi dihaluskan menjadi butiran kasar selanjutnya dipindah ke mesin satunya untuk dibuat butiran-butiran kopi yang lembut.


        Dalam sehari pabrik ini bisa memproses sekitar 100 kg kopi dengan cangkangnya dan hanya 60 kg kopi bubuk yang dihasilkan. Sementara sisanya,jadikan pupuk untuk dikembalikan ke kebun kopi agar kesuburan tanahnya terjaga. Puas menyaksikan proses pemisahan biji dan cangkangnya, Team Sahabat Petualang langsung diundang untuk makan siang oleh tuan rumah di tepi sungai. Bukan perkara mudah menuju lokasi tempat makan siang tersebut. Ketiga Terios mesti melintas genangan air sungai dan jalan tidak rata.


        Keunggulan kopi Pagar Alam asli ini adalah aromanya khas dan lebih lembut saat diminum. Bagi penggemar kopi, kenikmatan dan rasanya tidak bisa dilupakan. Potensi ekonomi Pagar Alam dari produksi kopi bubuk ini yang seharusnya didukung semua pihak agar kesejahteraan petani kopi pun akan terangkat ke taraf ekonomi yang lebih baik.

Tujuan ekspedisi penjelajahan kopi Sumatera Sahabat Petualang selanjutnya adalah menuju ke kabupaten Empat Lawang.


4. Empat Lawang, Kota Kopi Andalas

       Perjalanan team Sahabat Petualang dari kota Pagar Alam menuju ke kota Empat Lawang (Tebing Tinggi) harus dilalui melalui jalan yang berkelok kelok,menyusuri pinggiran sungai serta kondisi jalan yang dibeberapa bagian menyempit.Untungnya pemandangan kiri kanan jalan di sepanjang perjalanan sangat indah.Diselingi bukit bukit yang menghijau panorama khas pulau Sumatera menjadi menu yang harus dilalui.Butuh kehati-hatian agar tidak terjadi kecelakaan.Karena kecepatan yang bisa diraih Terios tak bisa terlalu kencang,akibatnya waktu yang dibutuhkan untuk menyelsaikan jarak tempuh sepanjang 122 km membutuhkan waktu selama 3 jam.
       Kopi dalam “bahasa gaul” kota Empat Lawang dikenal dengan nama Kawo,menjadi komoditi andalan masyarakat Empat Lawang. Tidak mengherankan, kalau biji kopi menjadi lambang kabupaten yang baru berusia 5 tahun ini. Pemerintah daerah Empat Lawang cukup getol mendorong dalam mengembangkan industri kopi. Lebih jauh lagi, pemda Empat Lawang membuat motif kain batik berlatar kopi menjadi keunikan tersendiri. Kota yang memiliki slogan Kawo Emass (Ekonomi Maju, Aman, Sehat dan Sejahtera) ini berharap banyak pada komoditi kopi sebagai komoditi unggulannya.


        Kopi Empat Lawang ini berbeda dengan kopi-kopi dari daerah Sumatera lainnya. Kopi disini merupakan persilangan kopi jenis Arabika dan Robusta,sehingga menghasilkan aroma dan rasanya khas Empat Lawang.
      
       Wujud aslinya kopi Robusta tapi aroma kopinya Arabica. Sementara sentra perkebunan kopi di Empat Lawang tersebar di sejumlah lokasi. Salah satunya di Desa Linggis Talang Kupang yang tetap setia dengan kopi. Dari generasi ke generasi, masyarakatnya merupakan petani kopi. Team Sahabat Petualang pun menyempatkan berhenti di sentra perkebunan tersebut melihat secara langsung kebun kopi khas Empat Lawang tersebut. Buah kopinya masih berwarna hijau yang menandakan buah kopi masih belum layak untuk di petik. Setelah cukup mendapatkan informasi tentang tanaman kopi khas Empat Lawang,team Sahabat Petualang bergegas menuju ke pabrik pengolahan kopi yang terletak tidak jauh dari kebun kopi tersebut. Proses pengolahan biji kopi di Empat Lawang ini sudah lebih maju dari pengolahan kopi di Liwa,Lahat maupun di Pagar Alam.Biji kopi Empat Lawang sudah diproses menggunakan mesin bertenaga diesel untuk pengerak oven sangrainya maupun mesin penggilingnya. Bahkan untuk pengeleman kemasannya pun sudah memakai mesin. Jadi proses produksi kopi Empat Lawang ini sudah menerapkan manajemen produksi yang baik


       Perhatian Pemerintah Daerah Empat Lawang terhadap produk kopi andalannya patut diapresiasi.Investor yang akan membuka pabrik pengolahan kopi diberikan lahan industri. Bahkan Pemda Empat Lawang membangun gedung khusus untuk kopi dari berbagai wilayah yang ada di Empat Lawang.
Agar tanaman kopi selalu memberikan nilai tambah bagi komunitas di sekitarnya, Pemda Empat Lawang mempelopori para perajin mebel untuk menggunakan bahan baku kayu dari pohon kopi yang sudah tidak produktif lagi. Agar produk mebel dari pohon kopi dikenal masyarakat luas, Pemda pun berusaha mengajak para perajin mebel untuk ikut dalam pameran mebel yang diadakan oleh berbagai pihak.

       Selama ini kota Empat Lawang sukses memajukan industri kopi,sangat pantas dijuluki kota kopinya Andalas. Produk kopi emas Empat Lawang yang menjadi ikon kota Empat Lawang seyogyanya harus tetap dipertahankan keberlangsungannya.Inilah menjadi pekerjaan rumah masyarakat dan pemerintah daerah setempat agar perekonomian warga semakin baik kedepannya.



      Perjalanan Terios 7 Wonder Sumatera Coffee Paradise sudah memasuki hari ke 4 (14 Oktober 2012) sejak tiba dari Liwa,Lampung. Performa tunggangan Daihatsu Terios pun masih mantap,masih mampu diajak menjalani trek-trek yang lebih menantang lagi setelah meninggalkan kota Empat Lawang. Ekspedisi Terios ini memang hanya mendatangi sentra-sentra kopi yang merupakan penghasil kopi yang beredar di pasaran. Mulai dari Liwa,Lahat,Pagar Alam dan Empat Lawang. 
 
Untuk mengetahui serunya petualangan mencari sentra-sentra produksi kopi yang populer di pulau Sumatera,tonton video rangkuman perjalanan Terios 7 wonder Sumatera Coffee Paradise dibawah ini.




Ekpedisi selanjutnya adalah menuju ke kota Curup. Kota yang juga memiliki sentra kopi yang khas karena berada di daerah yang dingin. Dilanjutkan ke Madailing Natal,hingga ke sentra kopi di Takengon, NAD. Dan akhirnya finish di titik nol kilometer di pulau Weh,Sabang NAD. Nantikan kisah perjananan Terios 7 Wonder Sumatera Coffee selanjutnya yang lebih seru,menguji nyali dan tentunya menantang dalam kisah






 
 




Read More »