Showing posts with label pernasaids5. Show all posts
Showing posts with label pernasaids5. Show all posts

Friday, July 24, 2015

Upaya Cegah Stigma dan Perlakuan Buruk terhadap ODHA

Masih berkembangnya berbagai mitos yang salah dan cenderung menyesatkan di tengah masyarakat tentang penyakit HIV/AIDS membuat orang yang terinfeksi penyakit mematikan tersebut seringkali mendapat perlakuan diskriminatif.Sebagian besar masyarakat masih menilai pengidap HIV/AIDS ini adalah mereka yang mempunyai perilaku seks yang menyimpang dan dikategorikan sebagai "bukan orang baik baik".Tak jarang bahkan pengidap HIV/AIDS ini harus terbuang dari kampung halamannya karena masyarakat sekitarnya tidak mau menerima kehadiran mereka dengan beragam alasan.Padahal orang dengan HIV/AIDS bisa disandang siapa saja, termasuk anak-anak dan ibu ibu rumah tangga yang berkelakuan baik.Stigma negatif tersebutlah yang menjadi beban paling berat yang dirasakan pengidap HIV/AIDS selama ini.

Selain masyarakat awam yang memandang sinis terhadap ODHA,masih banyak ditemukan juga tenaga medis yang takut bersentuhan dengan penderita HIV AIDS.Selain itu masih terdapat sejumlah rumah sakit yang tidak mau menerima pasien HIV/AIDS untuk menjalani rawat inap.Saya kutip contoh perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh tenaga medis tersebut yang dialami oleh Dini,aktivis Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI) dari sebuah situs media online.Pada suatu ketika, perempuan muda itu mengalami efek samping obat Nevirapine,salah satu obat antiretroviral yang harus dikonsumsi pengidap HIV/AIDS untuk mempertahankan kualitas hidupnya.Dini pun mencari pertolongan ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah tenaga kesehatan mengetahui bahwa dia terinfeksi HIV,Dini dipindahkan ke ruang unit gawat darurat bagian kejiwaan.Tentu saja Dini kesal dan marah diperlakukan seperti itu.

Perlakuan lebih "kejam" juga diterima oleh orang yang dikategorikan sebagai Gay,Waria dan Lelaki Seks dengan Lelaki (GWL) baik dilingkungan sekitar tempat tinggalnya maupun dengan pelayanan fasilitas kesehatan yang ada.Para GWL tersebut harus menanggung buruknya stigma ganda yaitu sebagai waria,gay,lesbian dan orang dengan infeksi HIV/AIDS.Sehingga walaupun sudah mengetahui dan mengakui terinfeksi HIV,mereka enggan memeriksakan diri maupun berobat ke rumah sakit atau puskesmas.Dengan kondisi dan perlakuan diskriminatif seperti itu banyak orang dengan infeksi HIV/AIDS meninggal dunia.Walaupun secara rutin sudah meminum obat,kondisi fisiknya akan memburuk karena mentalnya tertekan.

Saat ini Pemerintah telah menyediakan obat gratis bagi penderita HIV/AIDS yang dapat diperoleh di berbagai fasilitas kesehatan yang ditunjuk.Namun dengan kondisi pelayanan kesehatan yang belum ramah terhadap mereka menjadi persoalan besar yang harus segera diatasi.Fasilitas kesehatan seharusnya justru menjadi garda terdepan yang dapat menerima kondisi mereka apa adanya. Pembinaan rumah sakit dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting dan mendesak diberlakukan.Jangan sampai penderita HIV/AIDS menjadi anak tiri dikala menjalani perawatan di rumah sakit.

Berbagai macam stigma negatif dan perlakuan buruk terhadap penderita HIV/AIDS ini ternyata sangat merugikan dalam upaya penanggulangan penyebaran penyakit tersebut.Tidak mengherankan jika jumlah kasus HIV/AIDS ini di Indonesia seperti fenomena gunung es,terlihat kecil dipermukaan ternyata jumlahnya lebih besar dari yang diperkirakan.Terlihat dari data yang dilansir oleh Kementrian Kesehatan sampai bulan September tahun 2009,jumlah kumulatif kasus AIDS sebanyak 18.442 kasus dan kumulatif pengidap infeksi HIV sebanyak 28.260 kasus sehingga total orang dengan HIV/AIDS mencapai 46.708 jiwa.Namun, Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah yang terinfeksi sekitar 300.000 kasus.

Upaya untuk Menggerus Stigma Negatif

Upaya pencegahan dan penyebaran penyakit HIV/AIDS ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah saja,akan tetapi juga menjadi tanggung jawab kita semua.Negara telah mengakomodasi dalam upaya menanggulangi penyebaran penyakit HIV/AIDS ini dengan membentuk KomisiPenanggulangan AIDS Nasional disingkat KPAN.Komisi ini tidak akan bisa bekerja secara maksimal dalam upaya mengkampanyekan dan mendorong masyarakat agar tidak memberikan cap buruk terhadap orang-orang yang sudah terdeteksi mengidap HIV/AIDS.Upaya tersebut harus didukung oleh semua pihak mulai dari jajaran pemerintah sendiri,tenaga medis serta peran serta dari masyarakat luas.

Berbagai upaya yang dapat kita lakukan diantaranya :

  1. Mengkampanyekan berbagai fakta tentang HIV/AIDS melalui berbagai saluran media yang ada,seperti media sosial,blog,penyebaran pamflet,brosur,mengadakan penyuluhan hingga ke pelosok desa serta melalui jalur pendidikan dengan memasukkan pelajaran tentang penyakit HIV/AIDS sejak bangku sekolah dasar. Saat ini,kampanye tentang penyakit HIV/AIDS tersebut masih minim dilakukan oleh aparat Pemerintah ditingkat bawah.Apalagi saat ini kasus pengguna narkoba terutama narkoba metode jarum suntik dikalangan usia muda menunjukkan tren peningkatan, tentunya hal ini akan mengakibatkan meningkatnya jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS di masyarakat.Saatnya Komisi Penanggulangan AIDS Nasional bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) bahu membahu bersatu padu secara konsisten melakukan upaya pencegahan kedua penyakit tersebut dengan secara gencar melakukan penyuluhan ke masyarakat.
  2. Masyarakat melalui keluarga masing masing dapat berpartisipasi secara aktif dengan tidak memberikan stigma negatif lagi bagi tetangga maupun saudara yang terinfeksi HIV/AIDS ini. Dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan sekitar inilah yang membuat penderita HIV/AIDS merasa dia tidak sendiri dalam upayanya melakukan pengobatan dan pencegahan penularannya.Sehingga dengan mental yang kuat,harapan hidup bagi penderita HIV/AIDS ini akan meningkat pula bahkan ada beberapa penderita yang dinyatakan sembuh total dari HIV/AIDS.
  3. Upaya menggerus stigma lainnya adalah dengan mengikuti kisah perjalanan hidup orang dengan HIV/AIDS,seperti kampanye yang dilakukan yang oleh World Vision Indonesia dan dikemas dalam bentuk ekshibisi interaktif HIV/AIDS One Life Evolution (OLE).Pameran OLE telah dilangsungkan bergilir di tiga kota besar yang memiliki angka penularan HIV tertinggi, yaitu Denpasar, Surabaya dan Jakarta.Di pameran OLE tersebut,pengunjung diajak mengikuti lima kisah hidup orang dengan HIV/AIDS dengan latar belakang beragam,mulai dari kisah Retno,seorang ibu rumah tangga,Tasya yang berusia tiga tahun,hingga Ahmad, seorang laki-laki muda.Seiring dengan narasi kisah hidup yang diperdengarkan lewat earphone, pengunjung memasuki lorong seorang diri dari satu ruang ke ruang lain.Ruang ditata sedemikian rupa sehingga menggambarkan kisah dan fase kehidupan tokoh mulai dari kecil hingga terinfeksi HIV. Di ujung perjalanan, pengunjung disodori berbagai pilihan sikap untuk merespons HIV/AIDS. Terdapat pula berbagai informasi seputar penularan HIV dan pesan untuk menghapus stigma negatifnya.Pameran OLE ini seharusnya mulai menyasar kota kota kecil di seluruh Indonesia,karena HIV/AIDS ini tidak memandang kota besar maupun kecil dalam mencari mangsanya.
  4. Kalau pada tahun 1990-an pemutaran film diselingi dengan promosi produk yang terkenal dengan hiburan layar tancapnya,tidak ada salahnya Pemerintah serta barbagai komunitas yang peduli dengan ODHA memanfaatkan kembali metode tersebut.Film film yang diputar mengisahkan tentang para ODHA dalam menjalani kehidupannya.Umpamanya ditampilkan pertandingan olahraga seperti sepakbola antara pemain ODHA dengan masyarakat umum. Hal ini untuk menepis persepsi negatif bahwa HIV/AIDS bisa menular melalui keringat.
  5. Upaya lainnya adalah melalui penyuluhan yang dilakukan oleh para pemuka agama.Bisa dilakukan ketika pengajian,ceramah di gereja atau ceramah dalam merayakan hari hari besar keagamaan.Belum banyak tokoh agama yang secara konsisten mendukung upaya dari KPAN untuk mengerus stigma negatif tentang penderita HIV/AIDS di tengah masyarakat. Lewat penyuluhan yang dilakukan oleh para pemuka agama tersebut,diharapkan masyarakat akan lebih percaya dan akan menimbulkan empati.

Untuk lebih mengintensifkan kampanye bahaya penyakit HIV/AIDS secara nasional serta mengusung pesan perlawanan terhadap stigma buruk terhadap orang dengan HIV/AIDS serta orang orang yang hidup bersama ODHA,Komisi Penangulangan AIDS Nasional akan menyelenggarakan Pertemuan Nasional AIDS V (PernasAIDS V)pada tanggal 25-29 Oktober 2015 di Makassar,Sulawesi Selatan.Melalui Pertemuan nasional tersebut diharapakan kampanye melawan stigma negatif,diskriminatif terhadap ODHA akan lebih intensif lagi digalakkan sehingga kedepannya para ODHA ini dapat lebih nyaman dalam menjalani kehidupannya tanpa terusik dengan berbagai macam stigma tersebut. 

Read More »

Thursday, June 25, 2015

Memupus Mitos Salah dan Berbagi Fakta Sebenarnya Tentang HIV/AIDS



Pertama kali saya mengenal istilah HIV/AIDS sejak kelas 1 SMP pada tahun 1991.Waktu itu pada pelajaran teori olahraga,ibu guru saya menerangkan tentang adanya penyakit baru yaitu HIV/AIDS tersebut dan sudah menyebar berbagai negara.Tidak banyak informasi yang disampaikan oleh ibu guru olahraga tersebut.Intinya penyakit tersebut ditemukan pada tahun 1988 di wilayah benua Afrika dan disebabkan karena hubungan seksual yang dilakukan secara bebas dan berganti ganti pasangan,dan belum ditemukan obat penawarnya.Karena masih berumur belia, saya tidak terlalu “ngeh” dengan apa yang disampaikan oleh ibu guru tersebut.Teman teman saya sekelas sepertinya juga masih asing dengan berbagai macam istilah penyakit baru tersebut.Maklum saja,saat itu baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga untuk sekedar mengetahui informasi tentang apa yang dinamakan hubungan seksual tersebut masih tabu untuk dibicarakan.

Seiring berkembangnya teknologi informasi yang membuat semakin mudahnya mengakses berbagai macam informasi,ternyata apa yang disampaikan oleh ibu guru saya sewaktu SMP tersebut terbukti menjadi kenyataan saat ini.Bila dulu penyakit HIV/AIDS tersebut terkesan sebagai penyakit yang menyerang orang asing saja,ternyata sekarang penduduk Indonesia pun sudah banyak yang terjangkit penyakit HIV/AIDS tersebut.Nah orang yang terinfeksi HIV/AIDS tersebut sekarang ini lebih dikenal dengan sebutannya ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Metode penularannya tidak hanya melalui hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda beda,tapi sudah berkembang lebih jauh lagi. Penularannya bisa melalui proses transfusi darah yang tidak di screening terlebih dahulu,tukar menukar jarum suntik terutama bagi pecandu narkoba serta penggemar tatto serta bayi yang dikandung seorang ibu yang sudah terinfeksi HIV/AIDS.

Walaupun kebanyakan orang sudah mengetahui tentang bahaya penyakit HIV/AIDS,tapi masih banyak juga yang belum mengetahui sebenarnya seperti apa sih penyakit HIV/AIDS tersebut. Ternyata istilah HIV dan AIDS tersebut sebenarnya memiliki arti dan definisi yang berbeda.HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus,yaitu sejenis virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.Sedangkan AIDS sendiri singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome,adalah kondisi dimana kerusakan sistem imun tubuh sudah dalam kondisi parah yaitu ketika sel darah putihnya (CD4) dibawah 200.Normalnya jumlah sel darah putih (CD4) adalah berkisar antara 600-1.500 mililiter darah.Terkait pemahaman masyarakat tentang HIV/AIDS, perkembangan terakhir ternyata masih banyak warga masyarakat yang masih mempercayai berbagai mitos yang sayangnya mitos tersebut banyak yang tidak benar.Dengan pemahaman yang kurang terhadap penyakit HIV/AIDS ini tentu akan menimbulkan persepsi yang salah sehingga bisa berakibat terjadinya diskriminasi bagi penderita HIV/AIDS untuk berbaur dan bersosialisasi di tengah masyarakat.

Berikut ini berbagai mitos yang salah dan berkembang di tengah masyarakat serta fakta sebenarnya tentang HIV/AIDS yang saya rangkum dari berbagai sumber.Yuk disimak...

  1. Mengidap virus HIV berarti mengidap AIDS.
    Ini adalah mitos yang salah,faktanya sekarang ini dengan pengobatan yang tepat seseorang yang memiliki virus HIV selama bertahun tahun bahkan puluhan tahun tidak berkembang menjadi AIDS.Seseorang divonis menderita AIDS jika memiliki HIV disertai adanya infeksi penyakit kronis lainnya seperti tuberkolosis,pneumonia atau jumlah sel darah putih (CD4) kurang dari 200.
  1. Setelah mengidap HIV,penderita akan meninggal dalam beberapa tahun kedepan.
    Lagi lagi ini adalah mitos yang salah.Fakta sebenarnya,semua orang yang sudah terinfeksi virus HIV memiliki pengalaman yang berbeda-beda.Beberapa orang tersebut akan segera menderita AIDS dalam beberapa bulan saja sejak terinfeksi virus HIV,tapi ada banyak orang lain juga yang dapat hidup selama puluhan tahun dengan HIV dan memiliki harapan hidup yang normal. Kuncinya adalah jika kita merasa memiliki resiko yang tinggi tertular penyakit HIV,segera saja melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan terdekat karena gejala bisa muncul setelah 2 sampai 10 tahun sejak kita terinfeksi.Banyak orang yang tidak menunjukkan gejala apapun setelah bertahun-tahun terinfeksi,sehingga melakukan test atau pemeriksaan adalah tindakan terbaik.Semakin dini pengobatan akan semakin baik karena belum masuk pada kondisi AIDS.Penanganan yang tepat dan konsultasi serta pemeriksaan teratur ke dokter dapat membuat kita bisa menjalani kehidupan normal.
  1. Penyakit HIV bisa diketahui dari gejalanya.
    Ini juga hanya mitos yang menyesatkan.Fakta yang benar adalah gejala HIV mirip dengan sakit flu seperti demam, kelelahan,timbulnya ruam di kulit dan sakit tenggorokan.Gejala tersebut biasanya menghilang setelah beberapa minggu dan kemungkinan tidak akan timbul gejala tersebut selama beberapa tahun kedepan.Satu satunya cara untuk mengetahui apakah anda terinfeksi HIV atau tidak adalah dengan tes laboratorium.Jadi penyakir HIV ini belum bisa diketahui hanya dari gejalanya yang timbul di awal terinfeksi.
  1. HIV/AIDS bisa disembuhkan.
    Sampai detik ini belum ada obat yang mampu mengobati HIV secara tuntas.Obat HIV yang beredar selama ini hanya berfungsi untuk menjaga agar kadar virus HIV tersebut tetap rendah serta membantu menjaga sistem kekebalan tubuh penderita.Beberapa obat bisa berfungsi untuk mencegah HIV memperbanyak diri,obat yang lain mencegah virus memasuki material genetik kedalam sistem kekebalan tubuh.Jadi jangan percaya mitos bahwa HIV bisa disembuhkan,kecuali atas kuasa Tuhan.
  1. HIV/AIDS bisa menular hanya dengan bersentuhan.
    Mitos ini yang membuat penderita HIV/AIDS menjadi tersisihkan dalam pergaulan di tengah masyarakat.Padahal fakta yang benar adalah HIV tidak akan menular hanya karena kita berpelukan,bersalaman,bertukar pakaian atau handuk,bahkan minum air dari gelas yang sama maupun bersentuhan kulit atau terkena tetesan keringat dari penderita HIV/AIDS.Jadi kita tetap dapat hidup berdampingan dengan penderita HIV/AIDS tanpa perlu merasa takut akan tertular.Seperti yang saya sampaikan diatas,penularan HIV/AIDS hanya melalui aktivitas seks bebas tanpa kondom,berbagi jarum suntik atau membuat tatto dari peralatan yang tidak steril.Saat ini sudah jarang terjadi penularan HIV/AIDS melalui transfusi darah karena begitu ketatnya prosedur transfusi yang diberlakukan oleh rumah sakit maupun PMI.Jadi sekali lagi jangan percaya mitos ini.
  1. HIV bisa menular melalui gigitan nyamuk.
    Faktanya,melalui berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli disimpulkan bahwa HIV tidak bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk.Hal ini berbeda dengan penyakit malaria maupun demam berdarah yang penyebabnya adalah gigitan nyamuk.Jadi jangan takut tidur bersama dengan penderita HIV ya,sekali lagi ini juga mitos yang tidak benar.
  1. Hubungan seks menjadi aman jika kedua pasangan telah terinfeksi HIV.
    Ini adalah mitos yang salah.Faktanya,ternyata virus HIV ini tidak hanya 1 saja jenisnya,ada banyak jenisnya sehingga kedua pasangan tersebut tetap harus menggunakan kondom,gunanya untuk mencegah kedua pasangan tersebut tertular jenis virus HIV lainnya. Hal inilah yang membuat virus HIV bisa menjadi lebih agresif.Selain itu penggunaan kondom juga berfungsi untuk menghindari penularan penyakit penyakit kelamin lainnya terhadap pasangannya.
  1. HIV / AIDS tidak bisa tertular lewat oral seks.
    Ini juga mitos yang salah,faktanya beberapa hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang-orang yang menyukai oral seks juga bisa tertular.Virus HIV juga ditemukan dalam air ludah tetapi jumlahnya sangat sedikit untuk bisa menyebabkan infeksi.Akan tetapi penularan HIV melalui seks oral terjadi jika ada lesi (luka) di mulut.
  1. Wanita yang terinfeksi HIV tidak bisa mempunyai anak.
    Ini juga mitos yang tidak benar.Faktanya wanita yang terinfeksi virus HIV tetap bisa hamil dan mempunyai anak.Memang bayi yang dikandungnya bisa tertular virus HIV,namun resiko penularan kepada bayi tersebut dapat ditekan dengan secara teratur mendapatkan perawatan dari dokter.Ada beberapa cara untuk mengurangi resiko penularan wanita hamil kepada bayinya:   
             1.Menggunakan obat secara teratur dibawah pengawasan dokter.
             2.Melahirkan secara caesar atau operasi.
             3.Tidak menyusui bayinya
  1. Pasangan saya khan setia,jadi tidak mungkin saya terinfeksi HIV.
    Hilangkan mitos negatif ini dari benak anda.Faktanya setia atau tidak pasangan anda tidak menjamin terbebas dari infeksi HIV/AIDS.Hal ini terkait dengan kehidupan seksnya dimasa lalu.Orang yang terinfeksi HIV tidak akan menunjukkan gejala apapun di masa masa awal terkena infeksi.Biasanya ini yang disampaikan oleh para perempuan yang sebenarnya memiliki kehidupan seks yang baik baik saja tapi terkena infeksi HIV dari suaminya.
  1. Siapapun bisa terinfeksi HIV/AIDS
    Ini adalah fakta yang terjadi sekarang ini.Setiap orang bisa terjangkiti HIV;pria,wanita,tua-muda,anak-anak,bayi,gay ataupun yang mempunyai kehidupan sex yang normal.Setiap tahunnya jumlah penderita HIV diseluruh dunia menunjukkan peningkatan dan sekitar 30%- nya mengidap AIDS dan meninggal dunia.

Itulah beberapa mitos salah yang berkembang di tengah masyarakat sekarang ini serta fkat sebenarnya tentang HIV/AIDS.Memang saat ini penderita HIV/AIDS terbanyak berada di benua Afrika dan Amerika akan tetapi melihat perkembangan akhir akhir ini jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia juga menunjukkan peningkatan.Walaupun berbagai lokalisasi yang ada di beberapa kota sudah ditutup oleh Pemerintah Daerah setempat,pengawasan pekerja seks komersial yang memang paling rawan terkena infeksi HIV/AIDS menjadi lemah karena menyebar ke mana-mana. Belum lagi jumlah pengguna narkoba di Indonesia juga semakin meningkat dari tahun ke tahunnya. Penggunaan jarum suntik yang tidak steril serta digunakan bersama sama bisa menjadi media penularan HIV.Ini menjadi PR kita bersama untuk mencegahnya agar HIV/AIDS tidak berkembang semakin besar dan mengancam masa depan warga Indonesia.Jadi kita harus tetap waspada dengan perkembangan penyakit HIV/AIDS ini.

Kehadiran negara untuk turut serta dalam melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di buktikan dengan dibentuknya KomisiPenanggulangan AIDS Nasional atau disingkat KPAN.Komisi ini berada dibawah kendali langsung Presiden sehingga ruang lingkupnya lebih luas dan lebih cepat dalam mengambil kebijakan tentang pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Untuk lebih mengintensifkan kampanye bahaya penyakit HIV/AIDS secara nasional,Komisi Penangulangan AIDS Nasional akan menyelenggarakan Pertemuan Nasional AIDS V (PernasAIDS V) pada tanggal 25-29 Oktober 2015 di Makassar,Sulawesi Selatan.Semoga saja dalam Pertemuan Nasional tersebut menghasilkan keputusan yang bermanfaat dan membawa dampak yang positif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV/AIDS di Indonesia ini. (@dwisnfkaafi)


Sumber referensi :
Read More »